BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang
Degeneratif adl. Perubahan morfologi akibat cedera non lethal, bersifat reversible, bila berlangsung lama dan derajatnya berat dapat menimbulkan kematian sel dan tempatnya digantikan oleh jaringan penunjang dan fibrotik sehingga menimbulkan penurunan fungsi.
Karakteristik penyakit degeneratif :
Dimulai secara tersembunyi
Berjalan lambat
Menurun secara progresif
Berlangsung lama
B. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini, yaitu :
- Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah KMB I
- Agar lebih mengetahui tentang penyakit Multiple Sklerosis
- 3. Agar lebih mengetahui tentang asuhan keperawatan terhadap klien yang mengalami Multiple Sklerosis
BAB II
PEMBAHASAN
I. Konsep Penyakit
- Pengertian
Sklerosis multiple merupakan keadaan kronis penyakit sistem syaraf pusat degeneratif dikarakteristikkan oleh adanya bercak kecil demielinasi pada otak dan medula spinalis.
- Etiologi
Penyebab SM tidak diketahui. Beberapa penelitian menunjukkan adanya kerusakan myelin merupakan kejadian primer dan dapat juga diakibatkan oleh infeksi virus pada awal kehidupan yang terlihat sebagai suatu proses imun pada kehidupan selanjutnya. Walau beberapa bentuk bentuk infeksi virus mungkin merupakan mekanisme awal, namun respon imun yang tidak efektif diperkirakan mempunyai dalam patogenesis SM.
Ada beberapa factor pencetus, antara lain :
- Kehamilan
- Infeksi yang disertai demam
- Stress emosional
- Cedera
- Patofisiologi
Pada SM demielinasi menyebar tidak teratur ke selurah sistem saraf pusat. Myelin hilang hilang dari silinder dan akson itu sendiribergenerasi. Adanya plak atau potongan kecil pada daerah yang terkena penyebab sklerosis, terhentinya alur impuls saraf dan menghasilkan bervariasinya manifestasi, yang bergantung pada syaraf – syaraf yang terkena. Daerah yang paling banyak terkena adalah syaraf optik, khiasma, traktus, serebrum, batang otak, serebelum, dan medulla spinalis.
- Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala SM bervariasi dan banyak. Yang menunjukkan lokasi lesi (plak) atau kombinasi lesi – lesi. Gejala primer paling banyak dilaporkan berupa kelelahan, lemah, kesukaran kordinasi dan kehilangan keseimbangan. Gangguan penglihatan akibat adanya lesi pada syaraf optik atau penghubungnya dapat mencakup penglihatan kabur, diplopia, kebutaan parsial (skotoma), dan kebutaan total.
Kelemahan ekstremitas spastic dan kehilangan refleks abdomen akibat keterlibatan jasar motorik utama dari medulla spinalis. Kerusakan akson – akson sensori dapat menghasilkan disfungsi sensori. Masalah kognitif dan psikososial mencakup depresi, merupakan refleksi dari lobus frontal dan parietal yang terkena, jarang terjadi perubahan kognitif berat dengan demensia. Serangan pada serebelum atau basal ganglia dapat menyebabkan ataksia dan tumor.
- Penatalaksanaan Medis
- Farmakoterapi
Kortikosteroid dan ACTH digunakan sebagai anti radang yang dapat meningkatkan konduksi syaraf. Karena mekanisme imun merupakan faktor patogenesis SM, maka sejumlah agen farmakologik dicoba untuk modulasi respon imun dan menurunkan kecepatan perkembangan penyakit dan serangan yang sering serta menurunkan keadaan yang semakin buruk. Obat – obat ini mencakup azatioprint, siklofasmit, dan interferon.
- Defekasi dan berkemih
Penatalaksanaan terhadap kontrol berkemih pada kebanyakan masalah solid pasien umumnya gejala disfungsi kandung kemih dibagi menjadi kategori :
- Ketidak mampuan untuk menyimpan urine
- Ketidak mampuan mengosongkan kandung kemih
- Campuran ke dua tipe.
Kateterisasi sendiri intermitten efektif digunakan untuk disfungsi kandung kemih. Infeksi salurankemih sering terjadi akibat disfungsi neurologik. Asam askorbat dapat diberikan mengasamkan urine, yang membuat bakteri kurang mungkin untuk tumbuh. Antibiotic diberikan bila dibutuhkan.
- Komplikasi
Pada SM mencakup infeksi saluran kemih, konstipasi, dekubitus, deformitas kontraktur, edema dependen pada laki – laki, neominia, dan depresi rektif.
II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
- Pengkajian
- Pengumpulan Data
1. DATA UMUM
2. DATA DASAR :
- Aktivitas / istirahat
Gejala : kelemahan, intoleransi aktivitas, kebas, parastesia eksterna
Tanda : kelemahan umum, penurunan tonus/massa otot, jalan goyah/diseret, ataksia
- Sirkulasi
Gejala : edema
Tanda : ekstremitas mengecil, tidak aktif, kapiler rapuh
- Integritas ego
Gejala : HDR, ansietas, putus asa, tidak berdaya, produktivitas menurun
- Eliminasi
Gejala : nokturia, retensi, inkontinensia, konstipasi, infeksi saluran kemih
Tanda : control sfingter hilang, kerusakan ginjal
- Makanan / cairan
Gejala : sulit mengunyah/menelan
Tanda : sulit makan sendiri
- Hygiene
Gejala : bantuan personal hygiene
Tanda : kurang perawatan diri
- Nyeri / ketidaknyamanan
Gejala : nyeri spasme, neuralgia fasial
- Keamanan
Gejala : riwayat jatuh/trauma, penggunaan alat bantu
- Seksualitas
Gejala : impotent, gangguan fungsi seksual
- Interaksi social
Gejala : menarik diri
Tanda : gangguan bicara
- Neurosensori
Gejala : kelemahan, paralysis otot, kebas, kesemutan, diplopia, pandangan kabur, memori hilang, susah berkomunikasi, kejang, sulit dalam membuat keputusan.
Tanda : status mental (euphoria, depresi, apatis, peka, disorientasi),perasaan melayang..
Bicara terbata-bata, kebutaan pada satu mata, gangguan sensasi sentuh/nyeri, nistagmus, diplopia
Kemampuan motorik hilang, spastic paresis, ataksia, tremor, hiperfleksia, babinski + , klonus pada lutut
- Pengelompokkan Data
- Data subyektif
- Lemah, tidak mampu melakukan aktifitas berat
- Kesemutan pada ekstremitas
- Memerlukan istirahat setelah melakukan aktifitas sederhana seperti mandi
- Pengeluaran urine yang tersendat – sendat
- Kesulitan dalam melakukan beberapa hal dari kebutuhan sehari – hari
- Merasa penyakit penyakit tidak dapat sembuh
- Perasaan putus asa tidak berdaya
- Kesulitan dalam pembuatan keputusan
- Sulit dalam berkomunikasi
- Data Obyektif
- Kelemahan Umum
- Penurunan tonus otot
- Ataksia
- Pembentukan batu ginjal
- Terjadi kerusakan ginjal
- Kebiasaan personal yang buruk menimbulkan penampilan yang lusuh
- Mengingkari, menolak
- Mudah tersinggung, gelisah, depresi, dan marah
- Bicara lambat
- Status mental : perasaan melayang
- Analisa Data
No
Data
Penyebab
Masalah
1.
DS : - Lemah, tidak mampu melakukan aktivitas berat
- Kesemutan pada ekstremitas
- Memerlukan istirahat setelah melakukan aktifitas sederhana seperti mandi
DO : - Kelemahan umum
- Penurunan tonus otot
- Ataksia
Infeksi virus
↓
Kerusakan myelin
↓
Gamgguan syaraf motorik
↓
Gangguan Neuromuskular
↓
Koordinasi ekstremits tergannggu
↓
Kerusakan mobilitas fisik
Kerusakan mobilitas fisik
2.
DS : - Pengeluaran urine yang tersendat – sendat
DO : - Pembentukan batu ginjal
- Terjadi kerusakan ginjal
Disfungsi medulasi spinalis
↓
Neurologis kandung kemih tergangggu
↓
Inkontinensia urine
↓
Perubahan pola eliminasi urinarius
Perubahan pola eliminasi
3.
DS : - Kesulitan dalam melakukan beberapa hal dari kebutuhan sehari – hari
DO : - Kebiasaan personal yang buruk yang menimbulkan penampilan yang lusuh
Koordinasi ekstremitas terganggu
↓
Kekakuan
↓
Penurunan kekuatan
↓
Sulit melakukan pegerakan
↓
Tidak mampu melakukan perawatan diri
↓
Deficit perawatan diri
Deficit perawatan diri
4.
DS : - Kesulitan dalam membuat keputusan
- Sulit dalam berkomunikasi
- Merasa takut penyakit tidak dapat sembuh
- Perasaan putus asa tidak berdaya
DO : - Status mental : perasaan melayang
- Bicara melayang
- Mengingkari, menolak
- Mudah tersinggung, gelisah, depresi, dan marah.
Koordinasi ekstremitas terganggu
↓
Kurang terpajang info tentang proses penyakit
↓
Konflik psikologis
↓
Perubahan pola pikir/tingkah laku
↓
Koping tidak efektif
Koping tidak efektif
- Kemungkinan Diagnosa Keperawatan
Kemungkinan Diagnosa Keperawatan terdiri dari :
- Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuscular yang ditandai dengan :
DS :
- Lemah, tidak mampu melakukan aktifitas berat
- Kesemutan pada ekstremitas
- Memerlukan istirahat setelah melakukan aktivitas sederhana seperti mandi
DO :
- Kelemahan Umum
- Penurunan tonus otot
- Ataksia
- Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan inkotinensia urine ditandai dengan :
DS :
- Pengeluaran urine yang tersendat – sendat
DO :
- Pembentukan batu ginjal
- Terjadi kerusakan ginjal
- Defisit Perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan ditandai dengan :
DS :
- Kesulitan dalam melakukan beberapa hal dari kebutuhan sehari – hari
DO :
- Kebiasaan personal yang buruk yang menimbulkan penampilan yang lusuh
- Koping tidak efektif berhubungan dengan konflik psikologis ditandai dengan :
DS :
- Kesulitan dalam membuat keputusan
- Sulit dalam berkomunikasi
- Merasa takut penyakit tidak dapat sembuh
- Perasaan putus asa tidak berdaya
DO :
- Status Mental : Perasaan melayang
- Bicara lambat
- Mengingkari, menolak
- Mudah tersinggung, gelisah, depresi, dan marah.
3. Perencanaan
Tujuan
Intervensi
Rasional
Tupan :
Setelah diberi tindakan selama 6 hari mobilitas fisik teratasi.
Tupen :
Setelah diberikan tindakan keperawatan selam 3 hari mobilitas fisik teratasi dengan kriteria :
- Tidak lemah lagi
- Tonus otot kembali normal
-
- Identifikasi faktor – faktor yang mempengaruhi kemampuan untuk aktif seperti temperatur yang sangat tinggi, pemasukan makanan yang tidak adekuat dan pengguanaan obat – obat tertentu.
- Lakukan perubahan posisi secara teratur ketika pasien tirah baing di tempat tidur atau di kursi.
- Berikan masase dan rentang gerak aktif dan pasif pada jadwal yang teratur.
- Kolaborasi dengan tim dokter dalam memberikan pengobatan sesuai dengan kebutuhan.
Dantrollen
Vitamin B
- Memberikan kesempatan dalam memecahkan masalah untuk mempertahankan atau meningkatkan mobilitas
- menurunkan tekanan terus – menerus pada daerah yang sama dan mencegah kerusakanb kulit.
- mencegah masalah yang berhubungan dengan penurunan fungsi otot.
- meningkatkan mobilisasi dan mempertahankan aktifitas.
- Menyokong replikasi sel saraf dan meningkatkan metabolisme.
Tupan :
Setelah diberi tindakan selama 6 hari gangguan eliminasi teratasi.
Tupen :
Setelah diberi tindakan keperawatan selama 3 hari gangguan eliminasi berangsur – angsur membaik dengan kriteria :
- Tidak terjadi pembentukan batu ginjal
- Ginjal kembali normal
- Catat frekuensi berkemih, adanya berkemih yang tidak dapat ditahan
- Lakukan program latihan kandung kemih
- anjurkan untuk minum yang cukup
- tingkatkan latihan secara terus menerus.
- memberikan informasi mengenai derajat gangguan eliminasi atau mungkin merupakan indikasi adanya ISK.
- membantu untik mempertahankan fungsi kandung kemih yang adekuat.
- hidrasi yang cukup meningkatkan pengeluaran urine dan membantu dalam mencegah infeksi.
- menurunkan resiko berkembangnya infeksi pada saluran kemih.
Tupan :
Setelah diberi tindakan selama 6 hari defisit perawatan diri teratasi.
Tupen :
Setelah diberikan tindakan keperawatan selama 3 hari defisit perawatan diri berangsur – angsur teratasi dengan kriteria :
- Penampilan tidak lusuh lagi
- kaji derajat ketidakmampuan pasien.
- Berikan alat Bantu sesuai dengan indikasi seperti mandi di kursi.
- Konsultasikan dengan ahli terapi okupasi.
- untuk menentukan intervensi selanjutnya.
- menurunkan kelelahan, meningkatkan partisipasi dalam perawatan tubuh pasien.
- .bermanfaat dalam mengidentifikasi alat bantu untuk memenudi kebutuhan individual dan meningkatkan kemandirian.
Tupan :
Setelah diberi tindakan selama 6 hari koping yang tidak efektif dapat teratasi.
Tupen :
Setelah diberikan tindakan keperawatan selam 3 hari koping berangsur – angsur teratasi dengan kriteria :
- perasaan kembali normal
- tidak depresi lagi
- Kaji kemampuan keterbatasan yang dialami saat ini.
- Anjurkan mengungkapkan pernyataan yang mencerminkan adanya rasa tidak berdaya, tidak mampu untuk mengatasi masalahnya.
- Anjurkan pasien mereakam informasi yang penting dan mendengarkannya secara berkala.
- pengaruh psikologis menyebabkan pasien distraksi sehingga dapat memecahkan masalah.
- dapat menurunkan ketakutan pasien dan memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi masalah dan untuk membuat proses pemecahan masalah.
- pengulangan menepatkan informasi pada pusat pengingatan memori jangka panjang, dimana informasi tersebut lebih mudah diingat kembali dan menyokong proses pengambilan keputusan ndan pemecahan masalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar